situs slot gacor
mahjong slot
bonus new member
Prancis Setujui RUU Pelarangan

Prancis Setujui RUU Pelarangan Fast Fashion, Influencer Juga Jadi Target

Paris – Senat Prancis resmi mengadopsi rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan membatasi dampak lingkungan dan industri fast fashion. RUU ini secara khusus menargetkan perusahaan-perusahaan ‘ultra’ fast fashion asal Tiongkok seperti Shein dan Temu.

Baca Juga: Kolaborasi Prancis-RI, Tenun Songket NTB Eksis di Pameran Fashion Paris

Dalam pemungutan suara yang nyaris bulat pada selasa (11/6/2025), 357 senator mendukung dan hanya satu menolak. RUU tersebut yang sebelumya disahka Majelis Nasional Maret lalu.

Mengatur pelarangan iklan dan promosi produk fast fashion, serta memberikan sanksi kepada perusahaan yang tak memenuhi kriteria keberlanjutan. Di antaranya, pajak lingkungan. hingga 10 euro per item pada 2030, atau maksimal 50 persen dari harga produk sebelum pajak.

RUU ini lahir dari kekhawatiran terhadap masifnya konsumsi tekstil murah yang menyebabkan lonjakan limbah pakaian. Data dari badan lingkungan Prancis (Adere) menyebutkan bahwa rata-rata 48 pakaian per orang dilempar ke pasar setiap tahun.

“fast fashion adalah ancaman tiga lapis, mendorong konsumsi berlebih, merusak lingkungan, dan melemakan bisnis lokal,” kata Menteri Transisi Ekologis Prancis Agrefs Pannier Ruancher seperti dikutip AFP.

Fast Fashion yang Merugikan

Ia menyebut pengesahan ini sebagai “langkah besar” dalam perjuangan ekologis.

Ane-Cade Violand, anggota parlemen dari sayap tengah-kanan yang mengganngu RUU ini, menegaskan bahwa tujuannya mendukung RUU tersebut untuk “mengurangi dampak lingkungan dan industri tekstil secara menyeluruh.

RUU yang kini masuk tahap akhir pembahsan ini juga telah disesuaikan dengan penglategorian ‘ultra’ dan ‘klasik’ fast fashion. Dengan begitu, merek Eropa seperti Zara, H&M, dan Kiab, yang masuk dalam kualifikasi fashion klasik tidak terdampak.

“Klarifikasi yang dibuat senat memungkinkan untuk menargetkan pelaku yang megabaikan resilitas lingkungan, sosial, dan ekonomi, terutama, Shein dan temu. Tanpa merugikan sektor busana siap pakai Eropa,” jelas ketua Komisi Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Berkelanjutan Senat Jean-Francois Longeot.

Kebijakan Pemerintah

Rapporteur dari partai republik kanan tengah, Sylvie Valenie Le Hr. juga menegaskan bahwa RUU ini tidak ditujukan untuk menyulitkan merek-merek Prancis. “Saya tidak berniat membuat perusahaan-perusahaan Prancis yang menopang vitalitas ekonomi negara harus membayar satu euro pun.” katanya.

Salah satu pasal krusial dalam RUU ini adalah pelarangan iklan untuk produk fast fashion. Influencer yang mempromosikan merek-merek seperti Shein dapat dikenai sanksi.

Sistem penilaian in iakan menjadi dasar pemajakan terhadap produk-produk yang dianggap paling merusak lingkungan. Pada 2025, produk dengan skor lingkungan rendah akan dineaki pajak 5 euro, meningkat dua kali lipat menjadi 10 euro pada 2030.

Respon Shein

Shein membantah menjadi bagian dari masalah. “Kami bukan perusahaan fast fashion.” ujar perusahaan itu dalam pernyataan resminya. Jubir Shein bahkan menyebut bahwa model bisnis mereka justru ” bagian dari solusi, bukan masalah”.

Shein menjual produk dengan harga yang lebih murah ketimbang merek sejenis eropa. Kalah bersaing, beberapa nama seperti Jennyfer telah bangkrut pada april lalu, dan Natnat dinyatakan dalam pengawasan pengadilan sejak mei.

Uniion Industri tekstil Prancis menyambut RUU ini sebagai “langkah awal” pentig, meski mengakui bahwa isinya belum sepenuhnya ideal.

Meski telah disetujui dua kamar parlemen, RUU in belum resmi menjadi undang=undang, Pemerintah masih harus menginformasikan rancangan tersebut ke Komisi Eropa untuk memastikan keseriusannya dengan hukum Uni Eropa.

Jika terealisasi, Prancis akan menjadi negara pertama di dunia yang secara eksploosif melarang iklan fast fashion dan mengatur pada berdasarkan dampak lingkungan dalam sektor tekstil.

Sebuah langkah radikal yang bisa menjadi presiden global dalam upaya mendesak industri mode menuju arah yang lebih berkelanjtan.

Kolaborasi Prancis-RI

Kolaborasi Prancis-RI, Tenun Songket NTB Eksis di Pameran Fashion Paris

Paris – Setelah berbulan-bulan berkolaborasi dengan perajin Indonesia desainer muda Prancis Priscille berthaud bisa menghasilkan koleksi yang siap dijual. karyanya membuka peluang baru bagi wastra Nusantara untuk dikembangkan menjadi koleksi yang sesuai dengan pasar international.

Baca Juga: Modest Fashion & Art Trade Show, 9 Negara Satukan Estetika Modest di Turki

Koleksi Priscille yang menggunakan kain tenun songket khas Nusa Tenggara Barat (NTB) ikut dipajang di Premiere Classe pada 3-6 Oktober 2025. Premiere Classe merupakan trade show fashion international terbesar yang diselenggarakan di paris, Prancis.

Mengikuti program pintu Residency, Priscille mendapat kesempatan untuk medalami kerajinan tenun songket sevara langsung di Lombok selama tiga bulan.

Ada Fashion Show Juga

“Cukup menantang, tapi aku sangat bangga dengan kerja keras orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. ” kata Priscille saat ditemui Wolipop di sela Premiere Classie, Minggu (5/10/2025)

Bekerja dengan perajin kain tradisional sebetulnya bukan sesuatu yang baru bagi lulusan sekolah fashion ecole duperte paris itu. Sebelumnya saat berkunjung ke Nepal, Ia sempat belajar cara membuat kain tenun setempat.

Isu Sosial dan Pemberdayaan perempuan dalam komunitas perajin menjadi motivasi terbesarnya. Pengalamannya di Lombok pun meninggalkan kesan mendalam di benak Priscille.

Dari situ, lahirlah koleksi yang menawarkan perspektif baru segar terhadap kain tenun songket.

Kain Tenun Songket

Ia mengintegrasi ulang motif geometris songket dengan memperkecil ukurannya dan menyertakan kombinasi warna yang lebih sedikit sehingga menghasilkan tampilan yang lebih sedikit sehingga menghasilkan tampilan minimalis.

Potongan busannya pun menawarkan daya tarik tersendrii, Selain A-line dress dengan garis leher bergaya halter yang dipermanis aksen pitta, ada pula celana dalam tampilan sweatparis yang sebenarnya terinspirasi dari sarung.

“Banyak yang penasaran dengan material yang digunakan. Saat diberi tahu bahwa akan dibuat dengan teknik menemor oleh satu orang, mereka sangat terkesima.

Ungkap Priscille sat respons para buyyer yang mengunjungi stannya di pameran yang digelar berbarengan dengan Paris Fashion Week itu.

Paris Fashion Show

Pintu Residency merupakan program baru di Pintu Incubator yang digagas oleh JF3 Fashion Festival. Lakon Indonesia, berkolaborasi dengan kedutaan Besar Prancis mealui IFFI (Institut Francis d’Indonesia).

Pintu Incubator yang diikuti oleh jenama dan desainer baru Indonesia sendiri sudah berjalan selama empat tahun atau lebih mengirim pesertanya yang evaluas untuk berpartisipasi di Premiere Classe sejak 2023.

Kali ini menandai desut pesertanya Pintu Residency. Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia dan salah satu penggagas Pintu Incubator, menjelaskan bahwa program Pintu Residency hadir untuk membuka peluang ekspansi produk artisan lokal Indonesia ke pasar.

Selain Priscille, Kozue Sullerot juga peserta PIntu Resdency. Di pameran yang berkurang B-to-B itu, Ia manwarkan koleksi yang terbuat dari batik cap yang dikerjakannya dengan perajin di tegal. Jawa Tengah.

Thresia pun memastikan kesiapan produksi koleksi Priscille dan Kozue jika nantinya mendapat buyyers.” Tentu nanti akan di-support oleh perajin Mitra Lakon.” kata Thresia. Diungkapkannya pula, koleksi inni bakal tersedia di toko Lakon Indonesia,  Jakarta.