situs slot gacor
mahjong slot
bonus new member
Warnai Pekan Mode Dunia

Tas ‘Ramaha Copet’ Warnai Pekan Mode Dunia, Diprediksi Jadi Tren Fashion 2026

Paris – Dunia mode tampaknya sedang mencerminkan kekacauan zaman. Dalam gelombang ketidakpastian sosial dan politik global para desainer papan atas di Milan dan Paris memilih cara unik untuk menerjemahkan keresahan itu lewat tas tangan yang hanya bertali satu-miring.

Di Paris Fashion Week Spring-Summer 2026, tas tersebut cukup mendominasi. Peragaan

Chanel yang menampilkan koleksi perdana Mathieu Blazy, ats flap bag klasik tampil dalam versi terbuka lebar. Nyaris seperti baru saja dijatuhkan dari bahu pemiliknya.

Baca Juga: Retailer Fast Fashion China Buka Toko di Paris, Warga Protes Keras

Sementara di dior, debut Jonathan Anderson di lini busana wanita menampilkan tas berhias pita yang menggantung miring di satu sisi, memberi kesan tak seimbang namun tetap anggun.

Di Milan Fashion Week, Fend menghadirkan Peekabo dengan sisi terbuka yang memperlihatkan interior berhiaskan payet, sedangkan Loewe, dibawah arahan kreatif baru.

Usaha Fashion Week

Jack McCoulugh dan Lazaro Hernandez, memperkenalkan Amazona 180-tas kulit bertali tunggal yang sengaja dibiarkan setengah terbuka. Dibawa dengan cara sembarangan, dan miring 45 derajat ke kanan.

Meski tampil memikat di runwy, desain tas satu tali yang sengaja dibiarkan terbuka bisa jadi sasaran empuk di panjang tangan. “Melihat tas Peekabo terbuka di runway Fendi, rasanya saya ingin menutupnya sendiri.

Ujar seorang pengamat mode yang tinggal di New York City, AS, seperti dikutip Marie Claire “Kota ini” meninggalkan tas terbuka di tempat umu adalah undangan terbuka bagi copet.

Namun, dibaliik kesan ceroboh itu, tersimpan pesan simbolik, Anderson, yang dikenal dengan gaya sebversif dan eksperimentalnya, tampak senagaja menentang estetika klasik

Dior yang biasanya rapi dan elegan. Sementara di Tods’ versi yang lebih aman hadir lewat flap besar yang menutupi bukaan tas-tanda bahwa meski mode bereksperimen.

Tren Tas Anti Maling

Menyoroti sesuatu yang lebih dalam dari sekedar aksesori. Dunia sedang terasa miring dan tidak stabil-dan para desainer seolah menyalurkan perasaan itu lewat tas yang

\”Tidak sempurna.” dan mungkin juga bentuk pemitraan terhadap ketidaksempurnaan.

Kadang saya juga merasa seperti tas itu.”tulis penulis fashion Emma Childs dalam laporannya. Ia melanjutkan, “Sedikit miring  terbuka tetap berusaha bertahan di tengah badai.

Mungkin, di era yang serva tidak pasti ini, tas ini rtampak rawan kehilangan barang justru menjadi cermin paling ujar jujur dan kehidupan modern.

Retailer Fast Fashion China Buka Toko di Paris, Warga Protes Keras

Jakarta – Retailer fast fashion Shein memicu kontroversi setelah mengumumkan pembukaan toko fisik pertamanya di Paris, Prancis. Brand asal China tersebut dijadwalkan membuka tokonya pada 1 November 2025.

Baca Juga: UMKM Batik Ubah Kain Perca Jadi Fashion Premium, Go Global Berkat BRI

Shein dikenal luas lewat penjualan daringnya, meski begitu,kehadirannya di jantung ibu kota deposit 10 ribu mode dunia, justru disambut dengan amarah oleh para pecinta mode dan aktivis lingkungan.

Toko offline tersebut akan menempati lantai enam BHV Marals, salah satu pusat pembelajaran legendaris

Paris yang telah berdiri hampir 170 tahun. Keputusan BHV Marals untuk memberi ruang bagi shein dianggap sebagai bentuk ‘penghianatan’ terhadap nilai-nilai mode berkelanjutan yang selama ini dijunjung tinggi.

Penolakan tak hanya datang dari kalangan fashionista, tetapi juga pejabat pemerintah. Wali kota paris, Anne Hidalgo, secara terbuka mengecam pembukaan toko shein di BHV Marals lewat unggahan Linkedln.

Dia menyebut kehadiran Shein sebagai simbol dari fast fashion yang berlawanan dengan semangat keberlanjutan yang coba dijaga kota paris.

‘Paris mengecam pendirian Shein, simbol fast fashion, di BHV Marals. Tulisnya.

Fast Fashion

Pekan lalu, sejumlah karyawan BHV Marals pun melakukan aksi slot bet 200 protes dengan meninggalkan kasir dan berkumpul di luar gedung sambil membawa bendera serikat pekerja.

Salah satu pegawai mengatakan bahwa BHV dulu dikenal sebagai toko yang menjunjung tinnggi prinsip go-for-good.

Peran demonstran meniali. Shein memanfaatkan tenaga kerja murah dan mengabaikan standar hak asasi manusia serta lingkungan.

“Shein bertentangan degan nilai kami, ujar seorang karyawan lain, seperti dikutip dari New York Post.

“Kami selalu menjadi toko yang menampilkan merek-merek indah dengan tanggung jawab sosial. tambahnya.

Petisi di Change.org untuk menolak pembukaan toko Shein di BHV Marals bahkan telah mengumpukan lebih dari 105.000 tanda tangan. Sejumlah merek juga memutuskan menarik produk mereka dari BHV sebagai bentuk solidaritas.

Dalam wawancara dengan France 24, editor mode Dana Thomas menyebut Shein memunculkan tren ultra-fast fashion yang mengorbankan kualitas dan etika demi harga murah. Dia bahkan menyamakan produk-produknya dengan junk food.

Seperti junk food dalam dunia fashion.

Langkah Shein membuka toko fisik dilakukan setelah Prancis slot thailand menerapkan pajak tambahan sebesar 10 euro per pakaian untuk pembelian online. Dengan memiliki toko offline, Shein bisa menghindari beban pajak tersebut.

Menurut Bloomberg, Shein berencana memperluas jangkauan tokonya ke lima kota Prancis lainnya, termasuk Dijon, Reins, Grensbole, Angers, dan Linongers.

Sementara itu, Chairman Shein Donald Tang membela langkah tersebut deggan menyebut bahwa pembukaan toko ini adalah bentuk penghormatan terhadap status Prancis sebagai salah satu ibu kota mode dunia.

“Dengan memilih Prancis sebagai tempat uji coba toko fisik kami, Shein ingin menghormati semangat kreativitas dan keunggulan yang melekat pada negeri ini,” tulis Donald dalam pernyataannya.

UMKM Batik Ubah Kain Perca Jadi Fashion Premium, Go Global Berkat BRI

Jakarta – BRI Terus menunjukan komitmen mendorong UMKM naik kelas melalu berbagai program pemberdayaan, pembinaan, dan perluasan akses pasar. Dukungan ini membantu batik malessa mengolah kain perca menjadi produk fashion premium.

Baca Juga: Prancis Setujui RUU Pelarangan Fast Fashion, Influencer Juga Jadi Target

Di salah satu sudut kampung diportunan, Tipes, Serengen, Surakarta, geliat mesin jahit dan tangan-tangan perempuan sibuk menata kain batik, mendorong lunik, hingga menjahit pola yang sudah digambar. Dari sinilah karya batik malessa lahir, sekaligus menopang ekonomi keluarga setempat.

Madu Mastuti, pendiri usaha ini, memulai semuanya pada 2018. Ia memiliki mimpi sederhana, yakni menciptakan ruang bagi ibu rumah tangga agar tetap berdaya tanpa meninggalkan keluarga.

Seiring waktu, usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi perempuan di lingkungannya.

Madu

Menyadari banyak perempuan di sekitar memiliki keterampilan, tetapi tidak ada ruang untuk bekerja. Ia membentuk Kelompok wanita berkarya, sebuah wadah bagi perempuan untuk belajar dan bekerja sambil mengasuh anak. Tujuannya jelas, memberdayakan ibu rumah tangga agar bisa menopang ekonomi keluarga.

“Awalnya dan membuat daster berbahan kain perca, kain sisa yang dijadikan daster atau baju rumahan ibu-ibu. Lama-lama usaha berkembang, hingga menambah ke bidang kerajinan dan fashion. Kami memproduksi produk-produk premium seperti batik, kurik, lurik, dan tenun, yang dipadukan menjadi produk fashion.

Seiring waktu, Madu mulai mengkombinasikan batik, lurik, dan tenun menjadi produk fashion yang lebih ekslusif. Dari bahan-bahan sederhana, lahirlah produk-produk premium yang memiliki ciri khas dan nilai jual tinggi.

Nama ‘Malessa’ bukan sekedar label dagang, Ia merupakan gabungan nama madu dan anaknya. Alessa, sehingga mempresentasikan perjalanan pribadi dan usaha keluarga.

Terinspirasi Dari Nama Anaknya

Produk Malessa terbagi menjadi dua lini utama. Pertama, produk masal seperti daster dan busana rumahan yang dipasarkan di toko oleh-oleh besar. Kedua, produk premium hasil padu padan batik, lurik, dan tenun, yang dirancang secara ekslusif.

Proses produksi malessa menerapkan standar quality control yang ketat. Setiap desain dibuat sketsanya terlebih dahulu agar unik., dan semua sisa kain dimanfaatkan untuk membuat tas, topi, bantal, dompet, hingga gantungan kunci.

Keunikan ini membuat produk Malessa banyak dilirik. Dari MC Piala Dunia U-17 hingga pejabat publik, beberapa tokoh pernah mengenakan busana hasil karya Malessa. Kepercayaan pasar ini menegaskan kualitas dan kreativitas usaha rumahan ini.

Rumah Produksi Malessa kini tidak hanya milik Madu, tetapi juga milik para pengrajin di sekitarnya. Ada 8 orang yang terlibat, enam perempuan dan dua laki-laki, mulai dari penjahit hingga kurir.

Dukungan Dari BRI

Berbekal pelatihan tersebut, produk Malessa kini tersebar di berbagai toko, bandara, dan hotel di Surakarta. Produk mereka juga pernah dipamerkan di luar negeri, termasuk Belanda, Swiss, dan Australia.

“Program-program BRI itu luar biasa. Saya mendapatkan banyak ilmu baru perdampingan, dan orientasi peningkatan kapasitas agar UMKM bisa naik kelas dan siap ekspor.

Ia menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan adalah inti dari visi usahanya. Prinsipnya sederhana, jika ibu-ibu berdaya, ekonomi keluarga dan masyarakat ikut kuat. Malessa menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan kolaborasi bisa mengubah kehidupan.

Prancis Setujui RUU Pelarangan Fast Fashion, Influencer Juga Jadi Target

Paris – Senat Prancis resmi mengadopsi rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan membatasi dampak lingkungan dan industri fast fashion. RUU ini secara khusus menargetkan perusahaan-perusahaan ‘ultra’ fast fashion asal Tiongkok seperti Shein dan Temu.

Baca Juga: Kolaborasi Prancis-RI, Tenun Songket NTB Eksis di Pameran Fashion Paris

Dalam pemungutan suara yang nyaris bulat pada selasa (11/6/2025), 357 senator mendukung dan hanya satu menolak. RUU tersebut yang sebelumya disahka Majelis Nasional Maret lalu.

Mengatur pelarangan iklan dan promosi produk fast fashion, serta memberikan sanksi kepada perusahaan yang tak memenuhi kriteria keberlanjutan. Di antaranya, pajak lingkungan. hingga 10 euro per item pada 2030, atau maksimal 50 persen dari harga produk sebelum pajak.

RUU ini lahir dari kekhawatiran terhadap masifnya konsumsi tekstil murah yang menyebabkan lonjakan limbah pakaian. Data dari badan lingkungan Prancis (Adere) menyebutkan bahwa rata-rata 48 pakaian per orang dilempar ke pasar setiap tahun.

“fast fashion adalah ancaman tiga lapis, mendorong konsumsi berlebih, merusak lingkungan, dan melemakan bisnis lokal,” kata Menteri Transisi Ekologis Prancis Agrefs Pannier Ruancher seperti dikutip AFP.

Fast Fashion yang Merugikan

Ia menyebut pengesahan ini sebagai “langkah besar” dalam perjuangan ekologis.

Ane-Cade Violand, anggota parlemen dari sayap tengah-kanan yang mengganngu RUU ini, menegaskan bahwa tujuannya mendukung RUU tersebut untuk “mengurangi dampak lingkungan dan industri tekstil secara menyeluruh.

RUU yang kini masuk tahap akhir pembahsan ini juga telah disesuaikan dengan penglategorian ‘ultra’ dan ‘klasik’ fast fashion. Dengan begitu, merek Eropa seperti Zara, H&M, dan Kiab, yang masuk dalam kualifikasi fashion klasik tidak terdampak.

“Klarifikasi yang dibuat senat memungkinkan untuk menargetkan pelaku yang megabaikan resilitas lingkungan, sosial, dan ekonomi, terutama, Shein dan temu. Tanpa merugikan sektor busana siap pakai Eropa,” jelas ketua Komisi Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Berkelanjutan Senat Jean-Francois Longeot.

Kebijakan Pemerintah

Rapporteur dari partai republik kanan tengah, Sylvie Valenie Le Hr. juga menegaskan bahwa RUU ini tidak ditujukan untuk menyulitkan merek-merek Prancis. “Saya tidak berniat membuat perusahaan-perusahaan Prancis yang menopang vitalitas ekonomi negara harus membayar satu euro pun.” katanya.

Salah satu pasal krusial dalam RUU ini adalah pelarangan iklan untuk produk fast fashion. Influencer yang mempromosikan merek-merek seperti Shein dapat dikenai sanksi.

Sistem penilaian in iakan menjadi dasar pemajakan terhadap produk-produk yang dianggap paling merusak lingkungan. Pada 2025, produk dengan skor lingkungan rendah akan dineaki pajak 5 euro, meningkat dua kali lipat menjadi 10 euro pada 2030.

Respon Shein

Shein membantah menjadi bagian dari masalah. “Kami bukan perusahaan fast fashion.” ujar perusahaan itu dalam pernyataan resminya. Jubir Shein bahkan menyebut bahwa model bisnis mereka justru ” bagian dari solusi, bukan masalah”.

Shein menjual produk dengan harga yang lebih murah ketimbang merek sejenis eropa. Kalah bersaing, beberapa nama seperti Jennyfer telah bangkrut pada april lalu, dan Natnat dinyatakan dalam pengawasan pengadilan sejak mei.

Uniion Industri tekstil Prancis menyambut RUU ini sebagai “langkah awal” pentig, meski mengakui bahwa isinya belum sepenuhnya ideal.

Meski telah disetujui dua kamar parlemen, RUU in belum resmi menjadi undang=undang, Pemerintah masih harus menginformasikan rancangan tersebut ke Komisi Eropa untuk memastikan keseriusannya dengan hukum Uni Eropa.

Jika terealisasi, Prancis akan menjadi negara pertama di dunia yang secara eksploosif melarang iklan fast fashion dan mengatur pada berdasarkan dampak lingkungan dalam sektor tekstil.

Sebuah langkah radikal yang bisa menjadi presiden global dalam upaya mendesak industri mode menuju arah yang lebih berkelanjtan.

Kolaborasi Prancis-RI, Tenun Songket NTB Eksis di Pameran Fashion Paris

Paris – Setelah berbulan-bulan berkolaborasi dengan perajin Indonesia desainer muda Prancis Priscille berthaud bisa menghasilkan koleksi yang siap dijual. karyanya membuka peluang baru bagi wastra Nusantara untuk dikembangkan menjadi koleksi yang sesuai dengan pasar international.

Baca Juga: Modest Fashion & Art Trade Show, 9 Negara Satukan Estetika Modest di Turki

Koleksi Priscille yang menggunakan kain tenun songket khas Nusa Tenggara Barat (NTB) ikut dipajang di Premiere Classe pada 3-6 Oktober 2025. Premiere Classe merupakan trade show fashion international terbesar yang diselenggarakan di paris, Prancis.

Mengikuti program pintu Residency, Priscille mendapat kesempatan untuk medalami kerajinan tenun songket sevara langsung di Lombok selama tiga bulan.

Ada Fashion Show Juga

“Cukup menantang, tapi aku sangat bangga dengan kerja keras orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. ” kata Priscille saat ditemui Wolipop di sela Premiere Classie, Minggu (5/10/2025)

Bekerja dengan perajin kain tradisional sebetulnya bukan sesuatu yang baru bagi lulusan sekolah fashion ecole duperte paris itu. Sebelumnya saat berkunjung ke Nepal, Ia sempat belajar cara membuat kain tenun setempat.

Isu Sosial dan Pemberdayaan perempuan dalam komunitas perajin menjadi motivasi terbesarnya. Pengalamannya di Lombok pun meninggalkan kesan mendalam di benak Priscille.

Dari situ, lahirlah koleksi yang menawarkan perspektif baru segar terhadap kain tenun songket.

Kain Tenun Songket

Ia mengintegrasi ulang motif geometris songket dengan memperkecil ukurannya dan menyertakan kombinasi warna yang lebih sedikit sehingga menghasilkan tampilan yang lebih sedikit sehingga menghasilkan tampilan minimalis.

Potongan busannya pun menawarkan daya tarik tersendrii, Selain A-line dress dengan garis leher bergaya halter yang dipermanis aksen pitta, ada pula celana dalam tampilan sweatparis yang sebenarnya terinspirasi dari sarung.

“Banyak yang penasaran dengan material yang digunakan. Saat diberi tahu bahwa akan dibuat dengan teknik menemor oleh satu orang, mereka sangat terkesima.

Ungkap Priscille sat respons para buyyer yang mengunjungi stannya di pameran yang digelar berbarengan dengan Paris Fashion Week itu.

Paris Fashion Show

Pintu Residency merupakan program baru di Pintu Incubator yang digagas oleh JF3 Fashion Festival. Lakon Indonesia, berkolaborasi dengan kedutaan Besar Prancis mealui IFFI (Institut Francis d’Indonesia).

Pintu Incubator yang diikuti oleh jenama dan desainer baru Indonesia sendiri sudah berjalan selama empat tahun atau lebih mengirim pesertanya yang evaluas untuk berpartisipasi di Premiere Classe sejak 2023.

Kali ini menandai desut pesertanya Pintu Residency. Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia dan salah satu penggagas Pintu Incubator, menjelaskan bahwa program Pintu Residency hadir untuk membuka peluang ekspansi produk artisan lokal Indonesia ke pasar.

Selain Priscille, Kozue Sullerot juga peserta PIntu Resdency. Di pameran yang berkurang B-to-B itu, Ia manwarkan koleksi yang terbuat dari batik cap yang dikerjakannya dengan perajin di tegal. Jawa Tengah.

Thresia pun memastikan kesiapan produksi koleksi Priscille dan Kozue jika nantinya mendapat buyyers.” Tentu nanti akan di-support oleh perajin Mitra Lakon.” kata Thresia. Diungkapkannya pula, koleksi inni bakal tersedia di toko Lakon Indonesia,  Jakarta.

Modest Fashion & Art Trade Show, 9 Negara Satukan Estetika Modest di Turki

Jakarta – Menyambut pertumubhan pesat industri halal global, Modest fashion & Art Trade Show hadir di Halal Expo 2025 di Istanbul Expo Center (IPM) pada 25-29 November 2025, di Istanbul, Turki.

Baca Juga: Warna Baju yang Bikin Kulit Terlihat Lebih Cerah dan Segar

Diadakan oleh Markamarie, trade show ini menyatukan pelaku industri dari sembilan negara untuk berbisnis, berkolaborasi, dan saling terhubung. Acara ini bukan hanya menampilkan runway dan talk show yang inspiratif.

Selama empat hari, Istanbul berubah menjadi kanvas bagi kreativitas golbal. Pangunjung disuguhkan perasaan busana yang memukau dengan desain inovatif, diringi talk show yang mengupas tuntas dinamika industri, dan malan puncak Modest Fashion Awards yang mengapresiasi talenta terbaik.

Keberagaman Para Desainer

Kehadiran Desainer dari Uni Emirate Arab. Inggris, Amerika Serikat, hingga Kazakhstan, di samping tuan rumah turki dan inisiator Indonesia, menegaskan semangat #Mekamarie, yakni “Conecting the word trhough Creativity”

Keragaman gaya menjadi bintang utama. Sebaya dri  inggris, yang dikenal dengan luxury abaya premiumnya yang dipakai oleh keluarga kerajaan timur tengah, menampilkan koleksi limited edition dalam fashion show yang diakui memiliiki visual sineamtik menakjubkan.

Kontras hadir dari Sky The Brand (Indonesia) yang membawa ready-to-wear monokromatik bergaya chic, sementara Praer (Inggris) menyuntikan nuansa strrtwear.

Dari fungsionolitas, LZ Swim (Austria) menghadirkan koleksi burikini yang modis, dan sentuhan budaya yang

kaya diwakili oleh Alexer Paushan Almaty dari Kazaksthan dengan “Project Grandmothrs Who Annaxed The World”.

Acara ini secara efektif berfungsi sebagai jembatan arttrade show yang menghubugkan desainer, brand,

dan buyer lintas negara, Franka, Soeria, sebagai founder Mekamarie, menyampaikan semangatnya.

Turki

“Kami ingin menunjukan betapa berharganya ekspresi modest fashion sekaligus menghubungkan

pelaku industri lintas negara agar dapat terus berkembang, berkolaborasi, dan berbisnis bersama,” ungkap Franka Soerta dalam keterangan rilis.

Bagi brand pendatang baru, kehadiran di Istanbul memberikan akselerasi bisnis yang signifikan. Libra Matta dan yasmin matta, pendiri SLY The Brand, mengakui dampak langsungnya.

“Ada banyak buyyer yang tertarik dengan produk kami. Ini pertama kalinya kami ikut serta di event luar negeri dan hasilnjya sudah begitu luar biasa. Jalan kami untuk ekspansi langsung terbuka lebar,” ucap Franka Soerta.

Mekanisme telah menyelenggarakan lebih dari 200 acara sejak 2017 menunjukan konsistensi mereka dalam mendorong pertukran budaya dan pertumbuhan berkelanjutan.

Dengan dukungan adri stakeholder global dan diadakan dalam tanewoh platfrom global berdepan untuk produk dan jasa halal, Modest Fashion & Art

Trade Show 2025, bukan hanya merayakan keindahan fesyen santun, tetapi juga secara aktif mendukung dialog international mengenai ekonomi halal dan inovasi di industri ini.

Modest Fashion & Art Trade Show 2025 melalui modest fashion awards memberikan penghargaan kepada merek dan desainer berapresiasi. Turut hadir sebagai tamu yaitu

Meriem Lebdiri & Selma Lebdiri (Jerman), Amira Ben Bouzid (jerman), Assoc Prof. Dr. Suay Nihan Apkalin (Turki), Hala Absi (lebanon), Radwa Galal (mesir) serta sejumlah tokoh ternama lainnya.

Salah satu peserta yaitu Asta Husain  dan brand Sehaya dari Inggris, mengatakan sudah ikut serta sebelumnya di Modest Fashion & Art Trade Show 2025.

Di adakan dalam framework Halal Expo 2025, platfrom global terdepan untuk produk dan jasa halal,

Modest Fashion & Art Trade Show 2025 turut mendukung industri halal dalam mendorong dialog international mengenai ekonomi halal, inovasi, dan standar yang baik.

Warna Baju yang Bikin Kulit Terlihat Lebih Cerah dan Segar

Jakarta – Sering bingung memilih warna baju yang bisa menonjolkan warna kulitmu? Warna pakaian ternyata punya peran besar dalam menentukan dasar keasn keseluruhan penampilanmu. Dengan pilihan warna yang tepat cerah, segar, bahkan bercahaya alami tanpa perlu usaha berlebihan.

Baca Juga: Fashion Korea 2025 Paling Viral: Celana Sagging Cortis & Labubu Rose BLACKPINK

Tak perlu bingung, berikut tujuh warna baju yang dipercaya mampu membuat kulit terlihat lebih cerah, lengkap dengan tips cara memadukannya agar tampil lebih maksimal.

1. Putih

Warna maxbet Putih selalu menjadi pilihan aman untuk semua warna kulit. Selain memberi kesan bersih dan segar, putih juga menciptakan efek cerah, terutama bagi pemilik kulit medium hingga gelap karena kontrasnya yang pas.

Bagi kamu yang berkulit belang, pilih putih dengan sentuhan hangat seperti off-white atau cream agar tidak membuat tampilan terlihat pucat.

2. Pastel

Nuansa lembut seperti baby pink, mint green, illac, dan soft blue mampu memantulkan cahaya dengan  halus, membuat kulit tampak lebih bercahaya dan feminim.

Pemilik kulit gelap akan terlihat semakin menawan slot gacor hoki dengan warna pastel karena menciptakan kontras yang manis. Sementara itu, untuk kulit terang, pilih pastel dengan sedikit tone kuat agar tidak membuat kulit tampak kusam.

3. Merah Muda dan Coral

Dua warna ini selalu berhasil menghadirkan kesan segar dan sehat pada kulit. Merah muda memberikan aura lembut dan manis, sementara corak menambahkan kehangatan yang membuat wajah tampak lebih hidup.

4. Biru Navy

Ingin tampil dengan tanpa berlebihan? Navy blue bisa jadi jawabannya. Warna ini termasuk nova88 serbaguna karena cocok untuk semua warna kuit.

Pada kulit gelap, navy menonjolkan kilau alami kulit, sementara pada kulit terang, ia menambahkan kesan tegas dab berkelas. Warna ini juga mudah dipadukan dengan berbagai aksesori.

5. Hitam

Tak hanya memberikan efek ramping, warna hitam juga bisa menonjolkan kecerahan kulit secara alami. Warna ini menciptakan kontras yang tegas dan elega, terutama untuk kulit terang hingga medium.

Hitam cocok untuk segala suasana. Mulai dari acara formal hingga santai, dan bisa dipadukan dengan hampir semua warna, menjadikannya warna klasik yang tak pernah salah.

6. Lilac

Warna lilac atau lavender dikenal mampu memberikan kesan segar dan lembut pada kulit. Nuansa ungu muda ini menciptakan efek bercahaya dan feminim, cocok untuk tamu yang ingin tampil lembut namun tetap memikat.

Kulit medium hingga gelap akan terlihat makin bercahaya dengan ilac, karena warna ini memberikan keseimbangan antara hangat dan dingin.

7. Abu-Abu

Jangan meremehkan warna abu-abu. Meski terlihat sederhana, warna ini justru bisa memberikan tampilan modern dan slot resmi elegan. Pilih Tone terang seperti light grey atau stone grey untuk hasil yang membuat kulit tampak lebih cerah tanpa kesan berlebihan. Padukan dengan warna cerah seperti putih atau pastel untuk putih tampilan yang segar dan modis.

Fashion Korea 2025 Paling Viral: Celana Sagging Cortis & Labubu Rose BLACKPINK

Jakarta – Trend Fashion Korea Selatan mencuri perhatian publik sepanjang 2025. Seperti dirangkum dari Harpers’ bazzar Korea, banyak gen Z yang menirukan cara berpakaian personel boy group CORTIS dengan style sagging alias celana kededoran.

Baca Juga: Batik Karya Narapidana ‘Naik Kelas’ di Panggung Bali Fashion Trend 2025

Sejumlah idol KPop juga terlihat memakai kostum panggumg custom dari rumah mode dunia. Sebut saja Jisoo BLACKPINK dan Felix Stray Kids. Tak ketinggalan ada demam Labubu yang dipopulerkan Lisa BLACKPINK, hingga menjadi bag charms kekinian.

1. Sagging Pants

Alias tren celana kededoran viral ditirukan Gen Z setelah bouy group jebolan HYBE, CORTIS debut tahun ini. Gaya kelima personelnya Martin, James, Juhoon, Seonghyeon, dan Keonho dianggap nyentrik dan cool, memadukan celana kededoran dengan atasan oversized.

Tren Fashion ini lahir dari budaya hip-hop dan streetwear Amerika pada akhir 1980-an. CORTIS juga mengusung genre musik yang serupa.

2. Kostum Panggung Custome Rumah Mode

Pada 2025, kostum panggung yang dikenakan para idol KPop semakin ekslusif berkat kolaborasinya dengan rumah mode ternama, Jisoo BLACKPINK misalnya, tampil memukau dengan gaun rancangan Dior dan Tommy Hilger selama gelaran konser tur dunia DEADLINE.

3. Gantungan Kunci Labubu

Gantungan Kunic ini masih menjadi fenomena di 2025. Harpers’ Bazzar Korea mencatat Rose BLACKPINK sebagai idol KPop yang mempopulerkannya di kalangan artis dan media sosial.

Ia melahirkan demam Labubu sejak membuat video unboxing blind box pada 2024. Sampai-sampai mendapat kiriman produk spesial dan pendapatannya. Kasing Lung, sebagai tanda terima kasih.

4. G-Dragon Jadi Fashion Icon 2025

Harper’s Bazzar Korea memberikan honorable mentions untuk G-Dragon sebagai fashion icon Korea Selatan di 2025. Setiap penampilannya di bandara viral menjadi perbincangan di media sosial.

Personel boy group BIGBANG itu  juga mencuri perhatian saat tampil dalam balutan bahtroble alias jubah mandi hermes ke bandara. Ia juga membuat dagangan UMKM lokal ludes diburu penggemar usai menyelipkan jepitan rambut Hello Kitty pada tuxedo yang dipakainya.

Batik Karya Narapidana ‘Naik Kelas’ di Panggung Bali Fashion Trend 2025

Jakarta – Bali fashion Trend (BFT) 2025 resmi digelar pada 18-21 Desember 2025 di OINYX Park resort Ubud, Bali. Ajang mode tahunan ini kembali menjadi ruang pertemuan antara kreativitas dan budaya.

Pada hari kedua penyelenggaraannya, panggung BFT 2025 ditutup dengan peragaan busana istimewa yang menyoroti kolaborasi antara para narapidana dan berbagai lembaga pemasyarakatan di Indonesia dengan desainer tanah air.

Baca Juga: Batik Karya Narapidana ‘Naik Kelas’ di Panggung Bali Fashion Trend 2025

Sebanyak hampir 20 lapas dari berbagai daerah lurut berkontribusi melalui karya batik yang dibuat oleh para warga binaan. Kain-kain batik tersebut kemudian diolah lagi menjadi busana high fashion oleh dua desainer Indonesia, yakni Iramasari Dipedawinata dan SOFIE. Hasilnya, batik tak hanya tampil sebagai kain tradisional.

Iramasari  Djoedawinata x Kementrian Imigrasi & Pemasyarakatan

Koleksi kolaborasi pemasyarakatan Iramasari Djoedawinata menampilkan siluet dengan sentuhan estetik yang kuat. Potongan busana ditramisi bentuk  A-line, outer struktural, hingga atasan longgar yang di[padukan dengan rok panjang atau celana lurus.

Dari sisi warna, palet earth tone seperti cokelat tua, hitam, abu-abu, oranye, serta sentuhan marun dan biru dipadukan dalam koleksi ini . Motif batik karya narapidana tampil sebagai fokus utama, dipertegas melalui permainan layering dan tekstur.

Material batik tidak sekedar dijahit, tetapi dibentuk mengikuti konsep desain. Keseluruhan koleksi memancarkan kesan eksperimental dan berkelas, seolah menegaskan bahwa karya para narapidana juga mampu bersaing di panggung mode.

SOFIE x Kementrian Imigrasi & Pemasyarakatan

Berneda dari nuansa elegan Iramasari, kolaborasi Sofie menghadirkan energi yang lebih urban, edgy, dan youfthul. Siluet busana terlihat lebih berani dengan sentuhan street style, seperti jaket oversize, rompi, crop top, celana bermotif garis, hingga rok aesthetic.

Warna-warna cerah seperti merah, biru, kuning, dan hijau berpadu dengan hitam dan abu-abu sebagai penyeimbang. Motif batik tampil lebih playful, dipadukan dengan elemen modern seperti strap.

Tas Selempang, top bucket, hingga sepatu boots tebal yang memperkuat kesan kontemporer. Potongan layering, mix and match motif, serta styling yang berani menjadikan koleksi ini terasa segar dan relevan.

Exit mobile version